
KOTABARU Adahabar.com – Ketua Komisi II DPRD Kotabaru, Abu Suwandi, memberikan perhatian serius terhadap perlindungan nelayan lokal di wilayah “Bumi Sa-Ijaan” dari ancaman konflik agraria laut, Selasa 10 Maret 2026.
Baginya, menjaga kedaulatan nelayan tradisional atas ruang tangkap mereka adalah harga mati demi mempertahankan stabilitas dan identitas daerah kepulauan.
Tensi tinggi di perairan sering kali dipicu oleh penggunaan alat tangkap merusak oleh pihak luar serta gesekan ruang dengan korporasi tambang. Abu mengingatkan bahwa insiden pembakaran kapal cantrang di masa lalu merupakan sinyal darurat yang menunjukkan puncak kegeraman 14.000 nelayan lokal terhadap praktik yang merusak ekosistem.
Memiliki latar belakang sebagai mantan nelayan, Abu Suwandi memahami betul sosiologi masyarakat pesisir, termasuk filosofi kesetaraan suku Bajau Samah. Ia menekankan bahwa kebijakan pemerintah harus nyata berpihak pada masyarakat kecil agar kearifan lokal tidak tergerus oleh persaingan alat tangkap modern yang destruktif.
Sebagai langkah konkret, ia mengajak para nelayan untuk lebih proaktif menyuarakan aspirasi langsung ke Komisi II DPRD Kotabaru. Abu berkomitmen untuk terus mengedepankan diplomasi dan mediasi bersama pihak keamanan agar laut tetap menjadi sumber kehidupan yang lestari, bukan sumber perpecahan. (*/rls)


You cannot copy content of this page
Tidak ada komentar